Gerakan Suara Masyarakat Indonesia

Logo Gersum Indonesia
Dr. Pauzi Muhammad – GERSUMA Indonesia
Profil Tokoh · GERSUMA Indonesia

Dr. Pauzi Muhammad:
Dari Kerinci, Menjaga Suara Masyarakat Tetap Bernyawa

Kepala Redaksi GERSUMA Indonesia

Dr. Pauzi Muhammad, S.Ag., M.Ag.
Kepala Redaksi gersumaindonesia.org
Ketua Dewan Pakar DPD GERSUMA Indonesia Kab. Muaro Jambi

Ada perjalanan hidup yang tidak dibangun oleh satu profesi. Ia tumbuh dari banyak ruang: kampung halaman, pesantren, ruang kelas, forum organisasi, penelitian, buku, hingga perjumpaan dengan masyarakat.

Perjalanan seperti itulah yang mewarnai sosok Dr. Pauzi Muhammad, S.Ag., M.Ag.

Lahir di Kerinci, 23 Oktober 1974, Pauzi tumbuh sebagai anak keempat dari sembilan bersaudara. Dari tanah yang jauh dari hiruk-pikuk pusat kekuasaan itu, ia menapaki jalan pendidikan yang kelak membawanya ke dunia akademik, hukum Islam, organisasi kemasyarakatan, penelitian, hingga ruang pengabdian yang lebih luas.

Kini, selain dikenal sebagai akademisi dan penulis, Pauzi mengambil bagian dalam perjalanan GERSUMA Indonesia, sebuah organisasi kemasyarakatan yang berangkat dari akar Sumatera dan berkembang menjadi gerakan nasional yang membawa semangat menyuarakan aspirasi masyarakat.

Di titik inilah perjalanan intelektualnya menemukan ruang baru: menjadikan pengetahuan bukan hanya sebagai bahan kajian, tetapi sebagai bagian dari percakapan publik.

Dari Kerinci ke Tradisi Pendidikan Pesantren

Pendidikan Pauzi dimulai di SDN Desa Koto Tebat, Kecamatan Air Hangat Timur, kemudian berlanjut ke SLTP Hiang, Kabupaten Kerinci.

Setelah itu, ia memasuki dunia pesantren. Pada 1989, ia menempuh pendidikan di Pondok Modern Al-Risalah, Slahung, Ponorogo. Setahun kemudian, perjalanan pendidikannya berlanjut di Pondok Modern Gontor Ponorogo hingga 1994.

Pengalaman pesantren menjadi bagian penting dari perjalanan pembentukan dirinya. Di sana, pendidikan tidak semata-mata berlangsung melalui ruang kelas, tetapi juga melalui disiplin, tradisi keilmuan, kehidupan kolektif, dan pembiasaan untuk berinteraksi dengan berbagai latar belakang manusia.

Dari tradisi itulah perjalanan intelektual Pauzi terus berkembang.

Ia kemudian menempuh pendidikan tinggi di STAIN Kerinci pada Jurusan Peradilan Agama dan memperoleh gelar Sarjana Agama pada 1998. Pendidikan magisternya ditempuh di Pascasarjana UIN Sulthan Syarif Qasim Pekanbaru, konsentrasi Hukum Islam, dan diselesaikan pada 2001.

Dua dekade kemudian, ia menyelesaikan pendidikan doktoral pada Program Doktor Ilmu Syariah UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi pada 2022.

Akademisi yang Tidak Berhenti di Ruang Kampus

Sejak 2003, Pauzi menjadi dosen tetap pada Program Studi Hukum Ekonomi Syariah UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Sejak 2023, ia juga mengajar pada program magister dan doktor di perguruan tinggi yang sama. Pada tahun tersebut ia dipercaya menjadi Ketua Program Studi Doktor Ilmu Syariah.

Namun, membaca Pauzi hanya sebagai seorang akademisi akan membuat sebagian penting dari perjalanan hidupnya terlewat.

Ia aktif dalam berbagai organisasi dan kegiatan kemasyarakatan. Jauh sebelum memasuki berbagai posisi akademik, ia telah terlibat dalam organisasi kepemudaan, kegiatan masjid, MTQ, hingga organisasi mahasiswa di Kerinci.

Pengalaman itu terus berlanjut ketika ia berada di Jambi. Ia pernah terlibat dalam Ikatan Keluarga Pondok Modern Gontor, Forum Bisnis Alumni Gontor, kegiatan pendidikan dan dakwah masjid, ICMI, Tarbiyah Islamiyah, APKLI, serta berbagai yayasan dan organisasi yang bergerak dalam pendidikan dan pembinaan Al-Qur'an.

Dengan kata lain, ruang pengabdiannya tidak pernah benar-benar terbatas pada kampus. Ia bergerak di antara ilmu, organisasi dan masyarakat.

Menulis untuk Membaca Perubahan Zaman

Salah satu jejak paling kuat Pauzi terdapat dalam karya ilmiahnya.

Bidang yang ditulisnya cukup luas, tetapi memiliki benang merah yang jelas: bagaimana hukum Islam merespons perubahan masyarakat.

Ia menulis tentang ijtihad kontemporer, hukum bisnis syariah, e-commerce, maqashid syariah, zakat, hukum keluarga, perbankan, korupsi, kebijakan publik, hingga perlindungan data pribadi di era digital.

Sejumlah artikelnya terbit di jurnal yang tercantum dalam CV dengan indeksasi Sinta maupun Scopus. Pada 2024, ia juga memperoleh penghargaan dari UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi sebagai penulis artikel jurnal Scopus Q1.

Karya-karya tersebut memperlihatkan cara Pauzi membaca perubahan: tidak menempatkan syariah sebagai sesuatu yang terpisah dari perkembangan zaman, tetapi sebagai disiplin yang terus berhadapan dengan persoalan-persoalan baru.

Dari Buku hingga Forum Internasional

Selain artikel jurnal, Pauzi telah menulis sejumlah buku, antara lain Nikah Beda Agama di Indonesia, Nikah Siri dan Poligami dalam Perspektif Perundang-Undangan di Indonesia, Fiqh Bisnis Syariah Kontemporer, E-Commerce Syariah: Eksistensi, Urgensi, dan Formulasi Hukumnya, serta karya tentang ijtihad kontemporer, metodologi penelitian, dan filsafat ilmu.

Ia juga hadir sebagai pemateri, presenter, maupun moderator dalam berbagai forum ilmiah, termasuk International Conference on Sharia and Law, International Conference on Interdisciplinary Studies, ICEIIS, dan forum akademik lainnya.

Di luar negeri, salah satu jejak terbarunya tercatat melalui penelitian Matching Grant Strategic Research Partnership mengenai model pengurusan dan agihan zakat asnaf ar-riqab di Lembaga Zakat Negeri Kedah, Malaysia, pada 2026.

Semua itu menunjukkan bahwa dunia Pauzi tidak berhenti pada ruang akademik lokal. Gagasannya bergerak melalui penelitian, publikasi, forum ilmiah, dan jejaring keilmuan yang lebih luas.

Ketika Ilmu Bertemu Suara Masyarakat

Di sinilah keterlibatan Pauzi dalam GERSUMA menjadi menarik.

Dr. Pauzi Muhammad, Ketua Dewan Pakar DPD GERSUMA Indonesia Kabupaten Muaro Jambi sekaligus Kepala Redaksi gersumaindonesia.org, saat menyambut kedatangan Ketua Umum GERSUMA Indonesia di Rumah Dinas Bupati Muaro Jambi.

GERSUMA Indonesia lahir dari akar Gerakan Sumatera Maju, kemudian berkembang menjadi Gerakan Suara Masyarakat Indonesia dengan cakupan nasional. Organisasi ini membawa gagasan tentang pentingnya suara masyarakat, pemerataan pembangunan, pemberdayaan, persatuan, serta keterlibatan generasi muda.

Bagi sosok yang tumbuh dari Kerinci, menempuh pendidikan pesantren, puluhan tahun berada di lingkungan akademik, aktif dalam organisasi dan meneliti berbagai persoalan sosial-keagamaan, ruang tersebut memiliki relevansi tersendiri.

Dalam konteks itulah peran Pauzi sebagai Kepala Redaksi GERSUMA Indonesia mendapatkan maknanya.

Redaksi bukan sekadar tempat menulis berita. Ia adalah ruang untuk memastikan bahwa gagasan organisasi, dinamika masyarakat, dan berbagai persoalan publik dapat dikomunikasikan dengan bahasa yang jernih, bertanggung jawab, dan memiliki perspektif kebangsaan.

Dari Ruang Akademik ke Ruang Publik

Pauzi membawa modal yang tidak sederhana ke dalam peran tersebut.

Ada pengalaman panjang sebagai dosen. Ada tradisi pesantren. Ada pengalaman organisasi. Ada penelitian. Ada puluhan karya ilmiah. Ada pengalaman menjadi reviewer jurnal. Ada keterlibatan dalam pendidikan Al-Qur'an dan kegiatan sosial. Dan ada pengalaman berbicara di forum ilmiah dari tingkat lokal hingga internasional.

Semua pengalaman itu bertemu pada satu kebutuhan yang semakin penting dalam kehidupan publik: kemampuan mengubah pengetahuan menjadi komunikasi yang dapat dipahami masyarakat.

GERSUMA sendiri menempatkan aspirasi masyarakat sebagai salah satu inti perjuangannya. Organisasi ini ingin menjadi saluran suara masyarakat, mendorong pemerataan pembangunan, meningkatkan kesejahteraan sosial, menjadi mitra strategis pemerintah, menjaga nilai kebangsaan, sekaligus membuka ruang bagi generasi muda.

Karena itu, kerja redaksi memiliki posisi strategis. Apa yang ditulis bukan hanya soal apa yang terjadi, tetapi juga bagaimana sebuah peristiwa dibaca, bagaimana aspirasi masyarakat disampaikan, dan bagaimana gagasan pembangunan ditempatkan dalam konteks kepentingan publik.

Menjaga Suara Tetap Bernyawa

Perjalanan Pauzi Muhammad pada akhirnya bukan semata-mata kisah tentang seorang anak Kerinci yang menjadi doktor.

Ia adalah perjalanan seseorang yang bergerak dari pesantren menuju akademia, dari ruang penelitian menuju masyarakat, dan dari tradisi keilmuan menuju ruang komunikasi publik.

Di dalam perjalanan itu, satu hal tampak konsisten: keinginan untuk menjadikan ilmu memiliki kegunaan di luar dirinya sendiri.

Pengalaman panjangnya dalam pendidikan, penelitian, organisasi dan pengabdian menjadi bekal ketika ia memasuki ruang baru bersama GERSUMA Indonesia—organisasi yang berangkat dari Sumatera tetapi membawa cakrawala perjuangan pada tingkat nasional.

Jika GERSUMA ingin memastikan bahwa suara masyarakat tidak berhenti sebagai aspirasi yang datang dan pergi, maka dibutuhkan orang-orang yang mampu mendengar, memahami, menulis, dan mengartikulasikannya dengan baik.

Di situlah Pauzi mengambil tempat.


Dari Kerinci ia membawa akar. Dari pesantren ia membawa tradisi. Dari akademia ia membawa ilmu. Dari masyarakat ia menemukan makna pengabdian. Dan melalui GERSUMA, semuanya bertemu dalam satu ruang: menjaga agar suara masyarakat tidak sekadar terdengar, tetapi memiliki arti bagi perjalanan Indonesia.

Scroll to Top